KAJIAN IDENTIFIKASI TINGKAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE UNTUK PERENCANAAN REBOISASI PADA DELTA MAHAKAM DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA

Authors

  • Balitbangda Kutai Kartanegara

Keywords:

Mangrove, delta Mahakam, degradasi, rehabilitasi

Abstract

Tahun 1980, aktifitas manusia pada kawasan Delta Mahakam telah membuat alih fungsi lahan dan menyebabkan kawasan hutan mangrove mengalami degradasi/kerusakan. Dengan rusaknya hutan mangrove sudah barang tentu akan berdampak kepada berkurangnya fungsi ekologis yang dapat diberikan oleh hutan mangrove, di antaranya menahan abrasi pantai, mencegah intrusi air laut, serta sebagai sumber keanekaragaman hayati. Kajian ini dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan penyebab kerusakan hutan mangrove pada Delta Mahakam sehingga dapat menghasilkan rekomendasi terkait kegiatan perencanaan reboisasi hutan mangrove pada Delta Mahakam. Kajian ini menggunakan analisis untuk aspek sosial-ekonomi dan budaya  yaitu: Deskriptif kualitatif dan Deskriptif kuantitatif. Sedangkan untuk analisis data spasial lahan mangrove kritis Delta Mahakam data yang digunakan adalah peta tanah, peta tutupan lahan dan peta normalized density vegetation index (NDVI)/kerapatan tajuk. Berdasarkan hasil analisis peta, tingkat kekritisan kawasan magrove di Delta Mahakam dengan tingkat kritis katagori rusak sekitar 5,6% (7.034 ha), tingkat kritis katagori rusak berat sekitar 42,2%, dan tingkat kritis katagori tidak rusak sekitar 52,2% (65.522 ha), dengan potensi mangrove kerapatan tinggi seluas 49.885 ha (39,7%). Dilihat dari luasan penggunaan lahan, kawasan Delta Mahakam sebagian besar didominasi oleh tambak dengan luas 54.865 ha (43,7%), dapat dikatakan merupakan penyebab kerusakan mangrove di Delta Mahakam. Berdasarkan hasil analisis potensi tegakan mangrove dapat dilakukan beberapa hal terkait dengan perencanaan rehabilitasi antara lain: 1) Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di Delta Mahakam diproritaskan pada areal yang terbuka dengan jarak tanam yang tidak terlalu rapat agar pertumbuhan dapat berjalan optimal; 2) Secara alami ruang tumbuh mangrove baik pancang maupun pohon dalam satu hektar diisi lebih kurang 3.500 batang pohon. Dengan informasi ini maka ruang tumbuh optimal adalah 1,7 × 1,7 m; 3) Apabila dilakukan dengan jarak tanam yang lebih rapat maka perlu dilakukan penjarangan secara periodik pada tahun ke-5, ke-10 dan ke-15 sebesar masing-masing 10%, 30% dan 30% agar pertumbuhan naik dari 15 m3/ha pada akhir tahun ke-5 menjadi 20 m3/ha pada akhir tahun ke-10 dan 100 m3/ha pada akhir tahun ke-15; dan 4) Dengan pengaturan jarak tanam dan/atau penjarangan diharapkan pertumbuhan tanaman mangrove dapat lebih optimal. Pertumbuhan yang optimal dapat menyasar dua tujuan pengelolaan kawasan sekaligus. Khusus rehabilitasi di kawasan hutan produksi, maka pertumbuhan tegakan yang optimal dapat diproyeksikan untuk kebutuhan produksi kayu maupun penyerapan karbon di masa yang akan datang.

Author Biography

Balitbangda Kutai Kartanegara

Kerjasama antara Balitbangda Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Tim ULS TESD Universitas Mulawarman 

Downloads

Published

2019-07-31

Issue

Section

Articles